Senin, 01 Mei 2017

Kapasku Mengeringkan Batu


Saat itu aku berumur 4 tahun
bermain seluncuran bersama adikku dan temanku.
Terjatuh dan berguling diantara kasarnya pasir.
Menangis
saat menyaksikan darah mengalir dari lututnya.
Dia bilang
“Tak mengapa, aku pria kuat yang harus menjaga kakak”
Aku tak mengerti.
Aku hanya tertawa mantap
karena dia tak menangis.
Masih teringat
saat aku mengendongnya dipunggungku.
Menelusuri pinggiran got.
Dia pernah bertanya
“Kenapa lewat sini kak?”
Aku bilang
“karena kakak suka berpetualang”
Dia berbisik kecil
“Kakak gak takut jatuh?”
Aku tersenyum pasti
berharap dia mengerti.
Aku lupa bilang padanya
“Kau harus sehat selalu,kau harus tumbuh dewasa
kau harus lebih kuat dariku,kau tak perlu menjagaku
aku bisa tumbuh sendiri,tapi aku tak bisa tumbuh tanpamu
 jadi jangan nakal, jadi anak yang baik”
Tapi sekarang dia telah dewasa.
Dia mulai tumbuh tinggi.
Seperti janjinya dulu
“Aku akan tumbuh lebih tinggi dari kakak, supaya kakak tak tenggelam saat berenang”
Sekarang dia mulai malu berbicara padaku.
Dia mulai mencintai yang lain.
Aku takut dia melupakan kenangan kita
saat hanya berdua dirumah.
Aku hanya ingin bilang sesuatu yang belum terucap.
Aku  juga pernah mencintai
saat semuanya membenci
sesering ombak merangkul lautan.
sehangat matahari menemani langit.
sekeras ombak mehantam karang.
sesetia pantai bersama lautan.
segigih aku mengeringkan batu yang basah menggunakan kapas.
Untuk Sikecil ku yang pernah kecil dan muda.

Kapasku Mengeringkan Batu

Saat itu aku berumur 4 tahun bermain seluncuran bersama adikku dan temanku. Terjatuh dan berguling diantara kasarnya pasir. Menang...